Senin, 12 April 2010

NASIONALISME KOSONG

27 Agustus 2009

7 Agustus 2009 sesungguhnya masih segar dalam ingatan kita. Kemerdekaan negeri ini yang ke-64 tahun adalah sebuah proses bangsa yang seharusnya sudah sepuh ini menjadi bangsa yang bijak dan arif, terlebih lagi tak kehilangan identitas budayanya.

Nasionalisme ini bertambah dalam diri setiap masyarakat kita krn dua stasiun televisi bersaing untuk dapat rating tertinggi dalam kategori upacara bendera terbaik dalam versi masing-masing. Ada yang dilakukan di dasar laut, ada pula yang promosi melakukannya di puncak gunung tertinggi di Eropa...huff ! kemerdekaan ini menjadi sesuatu yg 'mewah' dan harus spektakuler di layar televisi, krn nasionalisme tdk tumbuh hanya di Istana Negara dan Jl. Proklamasi,jakarta

Memang terkesan sok menggurui, ah biarlah. Nasionalisme ini trkdg bermasalah krn negara tetangga kita terkesan usil dan tak tahu malu dgn melihat bagian kecil dari suatu bangsa yakni identitas budaya. Nah, kebetulan kalau melihat tentang hal ini dua artikel opini pembaca di Seputar Indonesia, edisi 27 Agustus 2009 lalu seakan dari judulnya terkesan "membela" Malaysia yakni yang ditulis Chappy Hakim Tari Pendet Terima kasih Malaysia dan juga artikel opini dr subjek yg sama dari Oman Fathurrahman berjudul Ulah Malaysia dan Ketidakpedulian kita

Malaysia malah masih mencari masalah lagi, layaknya orang berkelahi, mereka "mencuri" salah satu aset kita dan diklaim dahulu..sekarang dari wilayah Bali, yakni tari Pendet. Sebenarnya banyak sekali data-data yang menunjukkan bahwa Malaysia seakan tak mau kalah dalam urusan budaya dgn Nusantara ini. Pelecehan itu memang dalam bidang budaya, yang banyak jenisnya, mulai dari alat musik, tari-tarian, hingga naskah-naskah manuskrip penting juga pernah diembat. Pelecehan itu juga terjadi beberapa hari yang lalu saat ada seorang blogger malaysia yang melakukan postingan lagu Indonesia Raya yang kita bangga-banggakan, selanjutnya lagu itu diplesetkan dan diplintirkan kata-katanya seenak hati mereka, haruskah marah? tetapi memang kita yang harus memprlihatkan kedewasaan nasionalisme karena setiap kali kita merespons ejekan dengan kemarahan maka Malaysia akan senang dan gembira.
Kewaspadaan kita harus dipertegas terhadap Malaysia, tdk hanya soal Ambalat tetapi Cheppy Hakim menegaskan dalam salah satu statement-nya di Seputar Indonesia mengatakan bahwa "seolah mereka tau bahwa Indonesia akan marah tetapi sebentar saja setelah itu lupa, kemudian mulai lagi danseterusnya. Toh, pikir mereka, sekali sang empunya sudah tak berselera menggunakannya"[*] betul khan ! artikel ini dan kutipan spt ini menggugah kesadaran nasionalisme kita,shg jangan hanya tersentak saat ada pengeboman JW MARRIOT II dan Manchester United batal datang ke RI saja. karena inventarisasi bidang budaya adalah yang paling penting untuk dilakukan, aspek ini memang aspek sangat krusial.
"lebih parah lagi, sebagaimana pernah dikatakan Permadi di sebuah wawancara di stasiun televisi, ia berkata kalau kita nonton televisi di Indonesia kita senantiasa disuguhi berita tawuran dimana-mana [...]kisruh pilkada, tawuran pelajar, antar warga, [..]generasi muda saat ini sibuk dengan Valentine Days dan membenetuk kelompok fans Manchester United dmana-mana [*] pendapat Oman Faturrahman hampir sama, tetapi ia melihat dari perspektif bidang yang berbeda karena ada pula permasalahan yang sama dengan bidang naskah-naskah manuskrip kuno yang dikelolanya, yang juga bermasalah terhadap Malaysia karena "masyarakat kita sering tidak kuat iman melihat gepokan ratusan juta rupiah untuk ditukarkan dengan naskah kuno" [**] "yang ingin saya ingatkan adalah salah satu akar masalah pada diri kita sendiri sebagai bangsa yang tidak terallu perduli dengan pemeliharaan aset kebudayaannya..." kutipan lain dari beliau mengatakan bahwa "puluhan bahkan ratusan naskah kuno telah diborong oleh pembeli ilegal dari Malaysia" [**] betul kan, harusnya sprti itu tuh Nasionalisme yang benar. Hal-hal kecil dari peninggalan budaya tetap dirawat jangan karena alasan uang, kita jadi bersikap nasionalisme yang kosong.

[*] Hakim, Cheppy, Tari Pendet Terima Kasih Malaysia artikel Opini Seputar Indonesia, 27 Agustus 2009

[**] Fathurrahman, Oman ; Ulah Malaysia dan ketidakpedulian kita artikel Opini Seputar Indonesia, 27 Agustus २००९

http://prasfoucault2.multiply.com/journal/item/881

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Via Facebook