Oleh: Dwi Kusnanto
Ketika dunia perfilman Indonesia memasuki pertumbuhannya setelah lama ‘mati suri’, ada dua genre besar yang menggelinding bersama. Film-fim dengan pesan moral yang memberi inspirasi dan film-film yang Cuma ‘telanjang’ lewat film bergenre seks atau film hantu yang sekadar menakut-nakuti. Film kedua tentu saja hanya berujung menjadi ’sampah’. Namun parahnya film-film selera rendah yang tidak jelas juntrungan logikanya ini telah menjadi ‘racun’ dan terus diproduksi.
Sementara di genre lain bertumbuh film-film yang mengusung pesan-pesan moral yang membuat inspirasi. Bahkan, film dapat menggugah rasa kebangsaan penontonnya. Ada beberapa film kita yang mengusung film yang berbeda dengan film-film yang ada sebelumnya yaitu film yang bertemakan nasionalisme dan jiwa kepahlawanan seperti Nagabonar, Denias Senandung di Atas Awan, Garuda di Dadaku, Laskar Pelangi, King dan Merah Putih muncul belakangan ini. Beberapa pendapat yang mengatakan bahwa nasionalisme tidak dapat dipandang secara sempit dari sebuah film saja. Seberapa besarkah pengaruh film-film bertemakan nasional ini terhadap rasa cinta tanah air penonton?
Film yang mampu merepresentasikan sebuah bangsa secara proporsional, bijaksana, dan jujur, itu sudah nasionalis. Dan kita tidak bisa sebut nasionalis ketika film membohongi penonton. Amerika sedemikian hebatnya membangun nasionalisme mereka melalui film dan media dengan membuat film Pearl Harbour. Amerika menganggap dia menang di Vietnam dengan membuat film Rambo dan membuat dirinya merasa menang dalam pertempuran di Pearl Harbour dengan membuat film Pearl Harbour. Dia kalah, tetapi dia mengemasnya menjadi sebuah kemenangan. Kelihatannya memang hebat, tapi ada kebohongan di dalamnya. Kejujuran itu lebih penting ketika kita kemudian mengetahui siapa kita melalui media dan film, dari porsi yang jujur juga. Berbicara tetang nasionalisme, ketika film itu jujur dan penonton pun jujur mengiyakan bangsa kita seperti ini, menurutku lebih sehat daripada kita hanya ada di wilayah semu bernama nasionalisme. Nasionalisme paling kecil adalah minimal kita tahu diri kita dan tetangga kita. Meskipun kita tidak bisa seidealis ini pada kenyatannya, tapi setidaknya wajar dan tidak membohongi seperti film-film kita dengan muatan seni budaya dan potensi daerah setempat. Bukan saja lokasi pengambilan film, tetapi juga dalam memilih pemain. Contoh pada film Denias yang notabene pemainnya asli dari Papua. Pada film Denias bercerita tentang seoran anak di pedalaman Papua yang kesulitan memperoleh akses bersekolah. Sebenarnya masalah Denias tokoh dalam film ini, adalah masalah semua anak Indonesia yang masih jauh untuk bias mendapatkan fasilitas pendidikan yang memadai. Selain pesan moral, film Denias memberikan panorama Indonesia timur yang belum pernah disuguhkan perfilman Indonesia. Dan film yang sejenis adalah Laskar Pelangi yang bertemakan perjuangan guru dalam menjalankan kewajibannya di pedalaman Kepulauan Riau yang sarat dengan pesan moral dan potensi daerah setempat misalnya pantai. Inilah film yang dapat kita sebut nasionalisme. Dari persoalan bangsa kita pembuat film mengemas menjadi satu cerita dengan benang merah tema kebangsaan atau nasionalisme yang ditunjukkan dengan tanpa harus menggurui.
Film bertema nasionalisme lain adalah Garuda Di Dadaku, dan King yang bersetting Jawa Timur, bercerita tentang kisah perjuangan dan perjalanan panjang seorang anak bernama Guntur dalam meraih cita-citanya menjadi seorang juara bulu tangkis seperti yang diidolakannya yaitu Liem Swie King. Film Nagabonar yang bertema perjuangan, dijadikan materi kuliah di mata kuliah Sejarah Sosial Politik Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol Universitas Gajah Mada dan analisa korelasi dengan nasionalisme pada mata kuliah Pendidikan Nilai Pancasila yang ada di FISIP Hubungan Internasional di Universitas Parahyangan.
Sumber: Pikiran Rakyat, Minggu, 11 April 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar